Tipu Daya Dunia

Hal-hal duniawi cenderung (mengajak) ke arah kejelekan dan kesenangan semata. Ia tidak bisa memberi pertolongan kepada penghuninya. Hanya kebijaksanaan Yang Maha Bijaksana saja yang bisa menyelamatkannya.
Allah Swt. berfirman: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.” (QS: Huud [11]: 118-119)

Sebagian penafsir berkata: yang dimaksud berbeda-beda di sini adalah berbeda-beda dalam rezeki—perbedaan di antara yang kaya dan miskin—maka suatu kewajiban bagi orang yang tertolong oleh dunianya untuk menggunakannya sesuai dengan yang dikehendaki Tuhannya, agar bersyukur dan menghadapkan diri kepada-Nya, dengan segala perbuatan yang baik, karena yang demikian itu menghindarkannya dari terjerumus kepada kenistaan, dan jangan tertipu dengan dunia. Allah Swt. berfirman, “…maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaithan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (QS: Lukman [31]: 33)

Seorang penyair menyampaikan syairnya:
Siapa yang memuji dunia demi kesenangannya
Maka akan dicerca
karena akan mendapat sedikit dari umurnya
Ketika dunia sudah sirna dari seseorang,
tinggallah sesalnya
Kalaupun didapat, sangat bingung akan menyertainya

Ada cerita tentang a‘rabî (orang Arab pedalaman) yang mendatangi sebuah kaum. Kemudian mereka menyuguhkan makanan kepadanya. Dia pun makan dan kemudian tidur di bawah naungan kemah mereka. Tiba-tiba kemah itu tersingkap, sehingga ia tersengat panasnya sinar matahari. Terbangunlah dia dan pergi sambil bersyair:
Ingatlah, bahwa dunia itu bagaikan naungan bangunannya
Pasti, suatu hari naunganmu akan hilang

Sebagian ulama ahli hikmah berkata kepada sahabatnya. “Aku sudah memberitahu dan memperingatimu, bahwa orang yang paling musibah adalah orang yang menyia-nyiakan waktu dan salah dalam beramal.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Dengan takut kepada Allah, seseorang sudah layak dikatakan berilmu. Dengan tertipu kepada dunia, seseorang sudah layak dikatakan bodoh.”

(Dikutip dari Menyelami Isi Hati. Imam al-Ghazali. Keira Publishing, 2014)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *