Pedoman Transliterasi Terjemah

Transliterasi :

translasi

 

Catatan:

  1. Penulisan ayat al-Qur’an ditulis sebagai berikut: (QS: Al-Ahzab [33]: 70-71).
  2. Subhânahu Wata’âla ditulis sebagai berikut (Allah Swt.)
  3. ShalalLâhu ‘alaihi Wasallam ditulis sebagai berikut (Muhammad Saw.)
  4. ‘Alaihi al-Salâm ditulis sebagai berikut ( Ibrahim a.s.)
  5. Radiallah ‘Anhu ditulis sebagai berikut (Ali bin Abi Thalib r.a.)

    Apabila poin 2, 3, dan 4, serta kata-kata yang mirip dengannya, seperti Rasulullah Saw., atau nama-nama yang memiliki keistimewaan tersendiri, ketika berada di tengah-tengah kalimat, atau diakhir kalimat, maka ia tetap ditulis sebagai berikut:

    Di awal kalimat/ditengah-tengah:

    Nabi Muhamad Saw. terkenal dengan sifatnya yang pemurah, mulia akhlaknya, dan suka memberi.

    Di akhir kalimat:

    Diceritakan bahwa ada seorang lelaki sedang makan di dekat Rasulullah Saw. Rasululah berkata, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak mampu, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah berkata lagi, “Tidak,” Sebenarnya kamu mampu.”

    * Kata Rasulullah Saw. yang diblok tersebut sebetulnya berada di akhir kalimat pertama dari paragraf di atas. Itu ditulis Rasulullah Saw. (dengan titik satu) bukan Rasulullah Saw.. (ditulis titik dua).
    Tetapi ketika ia berada di tengah-tengah kalimat, dan hal itu belum menunjukkan nada titik, tetapi koma maka ia ditulis sebagai berikut: Rasulullah Saw.,

    Tetapi ketika ia berada di tengah-tengah kalimat, dan hal itu belum menunjukkan nada titik, tetapi koma maka ia ditulis sebagai berikut: Rasulullah Saw.,

  6. Untuk penulisan kata ‘al-Qur’an/al-Hadits’ apabila ia diletakkan di awal kalimat maka ditulis sebagai berikut: (Al-Qur’an/Al-Hadits) tetapi bila ia berada selain di awal kalimat semisal terletak di tengah-tengah/akhir kalimat) maka ditulis sebagai berikut: (al-Qur’an / al-Hadits)
  7. Untuk pengutipan ayat al-Qur’an ditulis ‘ayat dan terjemahannya’. Contoh:

       

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS: Al-Ahzab [33]: 70-71).

  8. Untuk pengutipan hadits cukup ditulis terjemahannya, terkecuali hadits tersebut sering dilafadkan dan tidak terlalu panjang
  9. Untuk pengutipan syi’ir Arab cukup ditulis terjemahannya. Apabila syi’ir-syi’ir tersebut terdapat dalam satu halaman penuh, maka cukup ditulis 5 bait saja yang sekiranya bisa mewakili dari keseluruhan isi, dan tentunya juga ada sinkronisasi antara setiap bait-dengan bait lainnya
  10. Khusus untuk catatan kaki (footnote) suatu hadits atau catatan kaki lainnya bila ia disebutkan secara lengkap maka ditulis mengikuti urutan berikut:

    Nama lengkap (tidak dibalik), judul buku (menggunakan huruf miring/italic)), keterangan lain (penahkik, Juz, dll.), penerbit, kota, cetakan, tahun dan halaman.

    Contoh:

    Ali Muhammad al-Syalabi, al-Imân bi al-Yaum al-Akhîr, Muassasat al-Iqrâ’, Kairo, cet. 1, 2010, hlm. 56
    Tetapi bila catatan kaki tersebut ditulis hanya dengan nama pengarang, nama kitab, no. hadits dan halaman, maka urutannya ditulis sebagai berikut:

    Pengarang, nama kitab (ditulis miring), Juz, no. hadits, halaman.

    Contoh:

    Hadits shahih, HR. Imam al-Hakim dalam ‘Al-Mustadrak ala al-Shahîhain,’ Juz III, hlm. 106
    HR. Imam Ahmad dalam ‘Musnad Ahmad,’ Juz IV, no. 1403, hlm. 163

  11. Untuk catatan kaki, apabila berisi hadits-hadits lain (hadits-hadits tambahan) yang sekiranya tidak diperlukan lagi (karena di isi tulisan sudah dapat mewakili) maka catatan kaki semacam ini tidak usah ditulis/diterjemahkan keseluruhannya. Cukup diambil satu hadits yang sekiranya paling mewakili dari isi tulisan di atas. Atau, bila catatan tersebut berisi keterangan-keterangan yang sangat panjang dan juga sekiranya tidak terlalu penting, tak usah diterjemahkan. Tetapi sekiranya, hal itu penting bagi bangunan isi tulisan, dan keterangan itu panjang lebar, bisa diringkas seringkas mungkin tanpa mengurangi maksud lafadnya dan tentunya bisa memahamkan.
  12. Untuk catatan kaki ini, ditulis lengkap seperti apa yang tertera di buku aslinya.
  13. Bila di buku aslinya itu terdapat bibliografi (daftar pustaka) maka ditulis sebagaimana mestinya.
  14. Untuk penulisan caping (tanda payung (î/û/â/h)) yang menunjukkan intonasi panjang ketika dilafadkan, atau sebagai pembeda antara dalam satu kata tertentu, digunakan untuk nama buku, gelar (biasa arab), nama penerbit, dan nama-nama lain selain nama orang. Dan itu dituling italic/miring. Semisal:

    احياء علوم الدين = ditulis = Ihyâ ‘Ulûmuddîn’

    تفسير القرأن الكريم = ditulis = Tafsîr al-Qu’an al-Karîm, dan lain-lain.

    Juga, penggunaan huruf ‘Underline’ (semisal, h sebagai pembeda antara huruf ه (h) dan ح (h) dalam bahasa arab) digunakan untuk jenis nama buku, gelar/julukan sesorang, nama penerbit, dan nama-nama lain selain nama orang. Semisal:

    محمد = ditulis = Muhammad (tanpa underline di bawah huruh ‘h’). Tidak ditulis = Muhamad (dengan underline di bawah huruf (h).

    هليمة = ditulis = Halimah (tanpa caping di atas huruf (i). Tidak ditulis = Halîmah (denganpake tanda caping di atas huruf (î)

    عائشة = ditulis = Aisyah (tanpa tanda petik di samping ‘A’ sebgai pelafalan ‘ain’). Tidak ditulis = ‘Aisyah (dengan tanda petik di samping ‘A/ain’).

  15. Penulisan seperti nama orang, ‘Muhammad’ ditulis menggunakan doble ‘M’.

 

Contoh tanda/kaidah penulisan suatu kutipan.

  1. Ayat al-Qur’an:

    “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS: Al-Ahzab [33]: 70-71).

  2. Al-Hadits:

    Di riwayatkan dari Anas r.a., “Suaru hari, Rasulullah sedang memberikan khutbah jumat di hadapan kaum muslimin. Tiba-tiba, salah seorang sahabat berdiri tepat di hadapan Rasulullah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, simpanan harta benda yang kami miliki telah habis, dan jalan mencari rezeki itu telah terputus. Karena itu, mintakan kepada Allah semoga Dia menurunkan hujan kepada kami.’ Lalu Rasulullah mengangkat tangannya dan berdoa, ‘Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, sampai diulanginya tiga kali.’”

    Diceritakan bahwa ada seorang lelaki sedang makan di dekat Rasulullah Saw. Rasululah berkata, “Makanlah dengan tangan kananmu.” Lelaki itu menjawab, “Aku tidak mampu, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah berkata lagi, “Tidak,” Sebenarnya kamu mampu.”… [penerj.]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *