Cinta

Allah Swt. berfirman: “Katakanlah: jika kalian mencintai Allah…” (QS: Ali Imran [3]: 31). Ayat ini turun ketika Rasulullah Saw. mengajak Ka’ab bin al-Asyraf dan sahabat-sahabatnya masuk Islam. Mereka berkata, “Kami adalah ‘Anak Allah’ dan pastilah kami lebih mencintai Allah.”

Kemudian Allah berfirman, “Katakanlah: jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku.” Ikutilah agamaku, karena aku adalah utusan Allah, menyampaikan risalah-Nya kepadamu, menyampaikan pesan-pesan-Nya. “Maka Allah akan mencintai kalian, mengampuni dosa-dosa kalian, dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penyayang.” Cinta seorang muslim kepada Allah adalah melaksanakan perintah-Nya, menaati peraturan-Nya, dan mengharap ridha-Nya. Cinta Allah kepada orang-orang Islam adalah pujian-Nya kepada mereka, memberi mereka pahala, ampunan atas dosa mereka, memberikan kenikmatan, rahmat, taufiq dan menjaga mereka.

Dalam kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn tertulis: orang yang mengaku-ngaku empat hal tanpa memiliki empat hal adalah pembohong: (1) Seseorang yang mengaku menginginkan surga tapi tidak taat kepada perintah Allah, ia adalah pembohong. (2) Orang yang mengaku mencintai Nabi tapi tidak mencintai ulama dan kaum miskin, maka ia adalah pembohong. (3) Orang yang mengaku takut kepada neraka tetapi tidak menjauh dari maksiat adalah pembohong. (4) Orang yang mengaku cinta kepada Allah tapi mengeluh jika ditimpa musibah adalah pembohong.

Salah satu tanda cinta adalah menuruti orang yang dicinta, dan tidak melanggar aturannya. Konon, sekelompok orang datang menemui Imam al-Syibli. Ia berkata, “Siapakah kalian?” Mereka menjawab, “Kami adalah sahabat-sahabat karibmu, orang-orang yang mencintaimu.” Al-Syibli melempari mereka dengan batu hingga mereka lari tunggang-langgang. kemudian ia berkata, “Kenapa kalian lari dariku? Andai kalian benar-benar mencintaiku, tentu kalian akan menerima cobaanku.” Ia melanjutkan, “Orang-orang yang sedang jatuh cinta meminum dari Cawan Kasih Sayang, dan mereka melupa pada bumi dan negeri-negeri. Mereka mengenal Tuhan dengan benar. Mereka terjebak di dalam kebesaranNya, kehilangan arah di belantara kekusaan-Nya. Mereka meminum dari Gelas Cinta, tenggelam di dalam Lautan Cinta-Nya. Mereka menikmati munajat denganNya.”

Al-Syibli kemudian melantunkan sebuah syair:
Dzikir Cinta memabukkanku, wahai tuan…
Dan, pernahkah engkau melihat pecinta yang tak mabuk?[]

Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “Barangsiapa yang me­rindu pada surga, maka ia akan bersegera melakukan kebaik­an. Barangsiapa yang takut akan siksa neraka, ia akan menjauhkan dirinya dari hawa nafsu. Dan barangsiapa yang meyakini adanya kematian, maka ia tidak tidak akan membesar-besarkan arti kesenangan.

Ibrahim al-Khawwash pernah ditanya tentang cinta. Ia berkata, “Hilangnya keinginan, terbakarnya segala sifat dan kebutuhan, menyatukan jiwa dalam lautan simbol dan isyarat.

(Dikutip dari Menyelami Isi Hati. Imam al-Ghazali. Keira Publishing, 2014)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *